Antara saya, Pak Inceu dan Profesi kami…

April 10, 2008

Tadi siang saya menonton satu acara lomba menyanyi untuk menjadi’ instant idola’ di salah satu stasiun tivi ternama ,yang secara tidak sengaja saya tonton, tapi malah akhirnya sangat amat menyentuh hati. Di acara tersebut, beberapa peserta yang memang sengaja dipilih karena memiliki profesi yang sama, mempertunjukkan kebolehannya dalam hal bernyanyi. Untuk episode minggu ini profesi yang dipilih adalah profesi GURU, tidak dibatasi apakah mereka guru TK, SD, SMP, atau SMA, dan apakah mereka mengajar mata pelajaran kesenian, matematika, IPS, dll. Asalkan mereka punya talenta dibidang menyanyi, mereka akan mendapat kesempatan untuk ’sumbang suara’ diatas panggung, disiarkan secara langsung, yang pada akhirnya memasrahkan nasib peruntungan mereka di tangan para pengirim SMS.

Yang menarik perhatian saya adalah keikutsertaan seorang bapak guru muda, Pak Inceu ( 32 tahun )dari daerah Garut. Beliau begitu bersahaja, tulus, dan ketika beliau bercerita bagaimana susahnya kehidupannya yang berprofesikan seorang guru yang tidak mendapat gaji tetap( karena beliau bukan berstatus sebagai pegawai negri, maupun berstatus sebagai guru honorer, melainkan beliaulah yang mendirikan sekolah untuk anak-anak petani yang tidak mampu di daerah Garut tersebut ), seluruh penonton di studio , berikut sang presenter dan tiga komentatornya, sontak terenyuh dan tanpa sengaja menitikkan airmatanya. Begitu halnya dengan saya…………………

Saya dan Pak Inceu kebetulan memiliki profesi yang sama, yaitu seorang guru. Kemudian saya sadar, walaupun saya dan Pak Inceu tersebut memiliki profesi yang sama, kami sebenarnya sangat jauh berbeda.

Perbedaan yang saya maksud adalah :

- Pak Inceu tidak pernah menarifkan jasa yang dia berikan, bahkan beliau rela untuk tidak dibayar, dan mengandalkan biaya kebutuhan sehari-harinya kepada istrinya yang sangat mulia dan dengan ikhlas mensupport usaha yang dilakukan sang suami tercinta.

- Sedangkan saya selalu menarifkan jasa mengajar saya yang menurut sebagian orang adalah terlalu tinggi.

Justifikasi : Menurut saya hal tersebut wajar karena saya juga menghabiskan banyak biaya, usaha dan waktu dalam proses mendapatkan ilmu yang akan saya ajarkan, selain itu saya sudah mengajar lebih dari 15 tahun, jadi jam terbang saya sudah pantas jika dibayar dengan harga yang lumayan.

- Pak Inceu tidak pernah mengeluh walaupun untuk mencapai tempat beliau mengajar, beliau harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, hanya jika nasib beliau sedang beruntung beliau akan mendapat tumpangan dari penduduk sekitar ( dimana terkadang beliau harus berada dalam satu kendaraan dengan kerbau-kerbau pembajak sawah  )

- Sedangkan saya yang mampu untuk membayar taksi untuk mencapai tempat mengajar saya , sangat seringkali mengeluh, dan terus berandai-andai untuk mempunyai kendaraan sendiri agar saya tidak harus naik taksi kemana-mana.

Justifikasi : Menurut saya hal tersebut wajar, karena dengan keadaan lalu-lintas Jakarta yang sangat tidak bisa di prediksi, ongkos taksi terkadang menjadi sangat mahal. Sedangkan untuk naik bis kota terkadang ada rasa takut .

- Pak Inceu selalu menempatkan urusan murid-muridnya pada prioritas utamanya. Alasan beliau, istrinya masih bisa ‘menghandle’ anak semata wayang mereka yang berumur 2,4 tahun, jika kehadiran pak Inceu dibutuhkan di dua tempat pada waktu yang bersamaan.

- Sedangkan saya selalu menempatkan urusan anak saya yang berumur 4 tahun pada urutan pertama. Dan jika saya dibutuhkan untuk berada di dua tempat pada waktu yang bersamaan, dengan tidak ada keraguan saya akan memilih untuk bersama anak saya.

Justifikasi : Menurut saya , segala urusan yang menyangkut anak saya harus menjadi prioritas utama saya, apalagi saya adalah seorang ‘single parent’ , dimana tidak ada orang lain yang bisa saya andalkan untuk urusan buah hati saya tercinta.

Masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya antara saya dan Pak Inceu, tetapi saya hanya akan menutup tulisan saya ini dengan perbedaan terakhir yaitu : Saya selalu memiliki justifikasi atas setiap perbuatan saya.

Salam hormat saya untuk Pak Inceu di Garut…..
Terus berjuang Pak………….


Before and after marriage…..

April 9, 2008

Before marriage….

He: Yes. At last. It was so hard to wait.
She: Do you want me to leave?
He: No! Don’t even think about it.
She: Do you love me?
He: Of course! Over and over!
She: Have you ever cheated on me?
He: No! Why are you even asking?
She: Will you kiss me?
He: Every chance I get.
She: Will you hit me?
He: Are you crazy! I’m not that kind of
person!
She: Can I trust you?
He: Yes.
She: Darling!

After marriage….
Simply read from bottom to top

*just joking* LOL


Ach……my girl…. :-)

March 8, 2008

Last thursday I got a surprising sweet visit from a teeny-weeny little girl, my daughter’s best friend at school, Shakira. It was the first time that Jovi (my daughter ) brought a friend from school. I could see how radiant she looked at that time. Then, they went straight to Jovi’s bedroom, where dreamy-make-believe toys were, ignoring the rest of us in the house, as if we were invisible :-P .. . . so I decided to get myself some quality time with my book, catching up reading one of the tetralogy books written by a genius local writer.

Long story short, Jovi and her little buddy were having so great a time playing in her bedroom that Sha’s nanny was having a hard time to get her go back home……until Sha’s dad called on the nanny’s cellphone and ordered them to go back home. After they left our house, I could sense that my daughter’s excitement lingered………she kept smiling for the next 12 hours :-), and I , without getting any arguments, could get her do whatever I asked her to do :-) ….Nothing could top this by the way :-)

It was very obvious to me that having a friend ( in this case , best friend )from school visiting our house, was very precious moment for my daughter. She might have been tired of having only adults ( minus a daddy that is ) in our house. She needs to mingle with her peers more often. . . which is psychologically good…….

Thanks Shakira ………we’re looking forward to having you again and again and again in our house :-)

…….” Friends-friends-friends ….I have some friends I love……
…….I love my friends and they love me…….
……I help my friends and they help me……
……Friends-friends-friends……I have some friends I love”…..
( a song by whoever )


Me, Myself and I…

February 7, 2008

Besok libur Imlek…cihuy….itu yang ada di benak gue on my way home hari rabu sore. Kebetulan salah satu temen gue ’seperkuliahan’ dulu baru dapet promosi jabatan and mau traktir gue makan siang di Plangi pas hari kamisnya. Unfortunately, murid private gue yg tercantik juga minta ‘jatah’ 2 jam hari kamis pagi, so dengan ’setengah hati’ gue ‘mengiyakan’. So, here goes my plan : Kamis pagi jam 8 gue dah jalan ngedrop anak and pembokat dulu di rumah nyokap , karena nyokap gue dah cuap-cuap kangen ama anak gue ( kata beliau :” biarin nggak ketemu kamu gak papa, yang penting bisa ketemu jovita” ( anak gue ), heheheheh, kejamnya :p ). Setelah ‘ngedrop-mengedrop’ kelar, gue langsung cabut ke rumah murid gue di daerah Benhil, but ditengah jalan, temen gue yang punya ‘hajat’ mau traktir ternyata harus nungguin mertuanya yang masuk UGD :( walhasil gagal deh acara makan-makan gratisnya :(

Kelar ngajar murid gue, ada rasa males pulang, gue ikut aja ke kantor murid gue itu. Sampe di kantornya yang megah and adem-ayem, and ngeliat betapa stressnya dia dengan kerjaan yang numpuk ampe di bela-belain libur-libur masuk kantor juga, gue ngebatin gini : “Untung profesi gue adalah seorang guru yang nggak perlu ngurusin uang orang yang bermilyar-milyar, yang harus ready anytime in case kantor butuh lo hadir, yang harus mikirin and memperjuangin kenaikan gaji anak-anak buahlo. Pada saat itu gue sangat amat bersyukur dan makin cinta dengan profesi gue.

Jam makan siang telah tiba, perut gue sudah bernyanyi dengan riang gembiranya, gue pamit pulang and langsung cabut ke mall terdekat, sendirian, karena murid gue itu masih harus nyelesaiin kerjaannya dulu. Makan siang di restoran yang baru dibuka di mall tsb lumayan enak lah, disambung dengan menyalurkan hasrat belanja gue yang kadang-kadang terlalu kalap kalo ngeliat barang yang lucu-lucu….. ya buat gue, buat anak gue, even pembokat gue dapet jatah t-shirt ungu keren :)..abis gitu liat salon lumayan kosong, sayang untuk dilewatkan begitu saja……got a hair spa, with additional vitamins from A-Z for my hair, yang akhirnya sempet bengong juga pas bayar di kasir..kok jadi segini harganya ..hehehehhe

Rambut dah wangi and keren ( at least menurut gue ), sayang ah kalo langsung pulang, mendingan nonton aja dulu….nonton deh gue( judul filmnya apa nggak perlu disebut deh, karena cuma film itu yang jam mulainya pas ama kedatangan gue ). Dah lama banget nggak nonton sendirian, rada kikuk at first, tapi akhirnya I enjoyed it so much. Gue bisa full konsentrasi ke film itu tanpa ada yang tanya-tanya, tanpa ada yang nawarin minuman, snacks, or yang pegang-pegang tangan :p

Journey gue hari ini diakhiri dengan beli CAKWE MEDAN yang ukurannya segede-gede dosa. Dan pulanglah gue dengan hati senang, perut kenyang, rambut wangi and keren walaupun kantong kering…

Doing things sendirian ternyata surprisingly good lho! it was only me, myself and I……
untuk sejenak gue bisa indulge myself tanpa diganggu hal-hal yang udah bikin gue pusing tiap harinya…… termasuk my so-called-going-nowhere relationship.

Keputusan diambil, from now on, gue mau ngejadwalin ’satu hari’ di agenda gue , yaitu hari untuk gue sendiri, yang gue kasih judul : ME, MYSELF and I………

Even a mother needs a holiday!


Big Girls (don’t) Cry…

February 4, 2008

That I’m a BIG girl, is a sure thing. Do I cry? well……
Here goes the story…
Yesterday I got pissed off by someone I cared so much, it was my fault, duh!…. Because from the very start I had been warned that this particular living creature had been known as “annoying but loveable”, so I had TO BE READY with all the consequences, I took my chances….but then again…I’m just a big girl ( not that BIG, geezzz )who happened to live in a so called crazy but tempting world, I WASN’T THAT READY!…yeah I cried …
I thought….by having the courage to ask a few sensitive questions, it would be easy to gain a deep understanding of the problems that have been plaguing me…
WRONG! It turned out to be digging my own grave……. yess I did cry!
Did the person even care? HEAVEN KNOWS!